Mengatur Keuangan Part 2

Banyak orang bertanya, kamu kok bisa jalan – jalan sih? Emang gajimu berapa?

Sebenarnya, ngga penting sih berapa banyak uang yang kita hasilkan. Yang paling penting adalah, how we spend our money and how much left we have. Aku ya cuma kuli di sebuah perusahaan dengan gaji yang biasa saja tapi cukuplah untuk bertahan hidup dan jalan – jalan hehehe…

Buatku, dalam keuangan yang sehat, terdapat jiwa yang tenang dan bahagia. Bener gak?!

Tulisan ini hanya sekedar reminder saja sih buat aku dan teman – teman yang selama ini keuangannya masih kocar kacir. Dalam mengatur keuangan, aku selalu mencoba untuk belajar banyak dan membaca dari berbagai referensi, karena eh karena… aku bukan expert soal keuangan. Note juga, I am not super rich bitch who has everything she wants in the world.

Salah satu formula mengatur keuangan yang aku rekomendasikan untuk digunakan sehari – hari adalah prinsip 50/20/30 dari LearnVest. Dalam prinsip ini kita melakukan pembagian gaji menjadi 3 komponen yaitu 50% untuk kebutuhan dasar (essential expenses), 20% tabungan masa depan (financial priorities), dan 30% gaya hidup (lifestyle choices).

Berikut adalah contoh implementasi Prinsip 50/20/30 dari LearnVest :

% Income Kategori Pengeluaran Komponen Pengeluaran
50% Kebutuhan dasar/ utama (Essential) 1.     Makan

2.     Transportasi

3.     Biaya penunjang : listrik, air, belanja bulanan, SPP anak, gaji pembantu, dll

4.     Tempat tinggal : kos/ sewa / cicilan rumah

20% Tabungan 1.     Tabungan pensiun

2.     Investasi jangka pendek atau jangka panjang

3.     Dana darurat (emergency fund), target 5x gaji

30% Gaya hidup 1.     Hobi : fitness, camping gear, dll

2.     Entertainment : nge-mall, nonton konser, jalan – jalan, shopping, dll

3.     Kegiatan amal : zakat, infaq, sedekah, sumbangan, memberi orang tua, dll

Kebutuhan dasar ini dibagi 4 kategori : tempat tinggal, transportasi, biaya penunjang (utilities), dan makan. Kategori kebutuhan dasar ini bersifat mendesak dan tidak bisa ditunda. Jadi ketika pertama kali terima gaji, sisihkan 50% untuk memetakan segala kebutuhan dasar, berapa biaya untuk tempat tinggal (sewa rumah atau cicilan rumah), berapa biaya untuk ongkos kesana – kemari per bulan, berapa biaya tambahan seperti bayar listrik, gas, berapa biaya untuk beli sepatu yang rusak, dan berapa biaya untuk makan selama sebulan. Pastikan bahwa biaya kebutuhan dasar ini tidak lebih dari 50%. Jika lebih, maka review kembali pengeluaran kamu. Apakah ada yang perlu dikurangi atau ada yang perlu disesuaikan.

Setelah selesai menyisihkan 50% gaji  untuk kebutuhan dasar, alokasi berikutnya adalah 20% untuk menabung (financial priorities). Pada kategori ini, kamu bisa memetakan tabungan untuk jangka panjang seperti tabungan pensiun, tabungan jangka pendek, dan juga dana darurat (emergency fund) disesuaikan untuk kebutuhan dan keperluan masing – masing. Pada kategori financial priorities ini kita bisa membagi lagi misalnya 10% untuk dana pensiun, 5% tabungan bersifat jangka pendek seperti untuk kebutuhan pembelian aset sekunder (misalnya rumah kedua), dan 5% untuk dana darurat. Dana darurat ini penting lho. Menurut para ahli, kita perlu punya paling tidak 5x gaji untuk dana darurat yang bersifat likuid. Dana darurat digunakan untuk keperluan mendesak dan tiba – tiba seperti keluarga ada yang sakit kritis, kehilangan pekerjaan, atau terkena bencana. Dana pensiun itu juga wajib hukumnya dalam perencanaan keuangan yang sehat. Sebaik – baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain dan alam semesta. Gak mau juga kan jadi beban orang lain saat kita tidak lagi produktif nanti?! Yang paling penting adalah pastikan bahwa dana tabungan yang 20% tidak keluar untuk membiayai hal – hal yang bersifat hura – hura dan konsumtif.

Komponen terakhir adalah 30% untuk gaya hidup yang meliputi hobi, entertainment, dan kegiatan amal/ kemanusiaan. Di sinilah banyak sekali di antara kita yang terjebak. Gini ya Beb, makan malam emang kebutuhan dasar tapi kalau tiap malam makannya di mall macam Citos atau PIM ya udah masuk kategori gaya hidup. Pakaian juga kebutuhan dasar, tapi kalau semua baju kamu beli dari merek kenamaan sedangkan gaji kamu UMR, ya itu udah masuk gaya hidup. Kamu bisa coba pakai lipstick merek Purbasari seharga Rp. 27,000 daripada Charlotte Tilburry, jauh banget Sis selisihnya. Pokoknya segala macam pengeluaran yang bersifat bisa ditunda dan tidak mendesak, bisa kamu masukan ke kategori ini seperti jalan – jalan, ngasih uang jajan ke adek, emak, dan handai taulan, amal sedekah, dll. Sebelum kamu mengeluarkan uang untuk kegiatan atau barang yang bersifat tidak penting dan tidak mendesak, pastikan kebutuhan dasar dan tabungan masa depan kamu cukup dulu. Jangan sampai, kita bisa jalan – jalan tapi telat bayar sekolah anak atau shopping barang – barang branded tapi nunggak bayar pembantu. Gitu ya.

Kenapa sih zakat dimasukkan ke dalam kategori gaya hidup? Karena dilihat dari segi urgency, zakat  tidak bersifat kebutuhan yang mendesak dan harus segera dilakukan. Namun, jika kamu sudah mampu memenuhi kebutuhan kamu paling dasar, kamu bisa masukkan zakat pada kebutuhan essential. Sesuai kemampuan dan kepercayaan aja sih.

Lalu, boleh ngga sih berutang? Ya, boleh banget. Aku juga punya utang kok, banyak (iya, ini curhat). Tapi jangan berutang untuk yang bersifat konsumtif seperti misalnya jalan – jalan. Jika perlu berutang, ya berutanglah untuk sesuatu yang bersifat darurat (jika dana darurat belum cukup) atau untuk sesuatu yang akan berwujud menjadi aset dan tidak memiliki penurunan nilai yang tajam di kemudian hari. Harap diperhatikan, utang adalah beban jiwa dan raga, jadi perlu diatur dengan baik. Jangan sampe berutang melebihi kemampuan. Menurut banyak ahli, maksimal utang yang sehat adalah 30% dari penghasilan total. Mari kita cek lagi total utang mulai dari KPR, KPM,  atau kreditan daster di mamang – mamang lewat.

Inti dari keuangan sehat adalah pengendalian diri.. tsaaahhh!!. Jangan sampai kita melakukan keputusan keuangan yang diluar kemampuan kita. Sekali lagi, tidak penting seberapa banyak yang kita hasilkan, yang paling penting adalah berapa banyak yang tersisa di tabungan.

Mengatur Keuangan Part 2

I’m not okay.

“I think we need to book a room. I am not sure the family provide more rooms for us..” Keke said.

I shrugged.

I just realized I said ‘yes’ to go to Jogja to attend her cousin’s wedding.

I stared at the computer screen for a while and it took longer to book a hotel this time than always. Jogja kept some pieces of good memories for me. I felt the funny tickles on my mind until they were moving in too painful mode all over my body. It was fours years ago (or maybe more, I just don’t wanna be good at numbers for once) when I visited this place with someone who is dear to my heart. It was our early days together.

I thought it was something that could last, but it wasn’t. I was so invested emotionally and financially, knowing we pay much effort and money for this relationship. But somehow I always knew relationship that involve air ticket would never last, and… we only survived 3 wonderful years together*. I think most people on their twenties hard to understand the idea of coming home to someone after very long day at work. People who has more responsibilities and higher position will have more baggages to carry – let’s just pretend we are all singles and carry those baggages- and we just need a sip of hot tea and simple massage at home with someone**. Then we have another day to survive the craziness that happen in the world. That is what I want and NOT what we want. So we choose parted ways.

It’s been a year or maybe more, but the pain is there. Break-up or divorce will always be painful no matter how much effort you put to smoothen the process. I can imagine Black Shelton and Miranda Lambert are now faking the smiles in front of everyone and pretending everything ok and they are still friends. I’m pretty sure they are going back to their private room and cry to sleep… A lot!!! Unless they already have someone else in their head of course.

I tried to survive these days to meet new people who has the same vision: start a family. And that’s how I was reconnected to my longtime ex-boyfriend. The guy who somehow his charm melt my heart again, until I knew he is about to get married. Then I met more random guys, but my mind seem to block the chemistry with them. The thing I hate the most about me is: I’m very difficult to fall in love, it’s just in my gene. So I ended up losing all of them. I had a conversation with my ex about my worries few days ago, what if I never met the one?***. And he only said that maybe the guys I met right now are not the one. I shouldn’t rush it, love will come along easily and unexpectedly. I just have to be patience. Maybe it is or maybe it isn’t. Maybe I just need time to make things okay again. Meantime, I am not okay and I just have to face it.

“Let’s stay at a fancy hotel this time. No budget hotel!” I replied to her.

——————————————————————————–
* at least to me this was one of the happiest moments I had that I cherish.
** not just someone, but the person that we have all privilege and most exclusive access to.
*** yes, we are talking to each other. I know it is a bit awkward and complicated, but he can be so supportive in many ways.

I’m not okay.

Rencana

Sudah lama banget pengen ke Karjaw. Rencananya udah dari 3 tahunan lalu saat sahabat bagian waktu rempong ngajakin ke sana. Saat itu masih Rp. 450,000an untuk paket wisata 3 malam 2 hari, tapi tinggal di home stay. Karena satu dan dua hal, aku nggak bisa ikutan jadinya. Gagal deh tuh snorkeling dan tanning.

Setelah itu beberapa kali dapet tawaran ikut, masih nggak bisa juga selalu gagal. Akhirnya, 3 bulan lalu benar – benar meluangkan waktu dan ngosongin jadwal buat ke Karjaw bareng sahabat juga. Berhubung sama keluarga dan ada baby Noa yang super cute, kita rencana ambil paket wisata yang stay di cottage. Agak fancy dikitlah gitu yah sesekali hehehe…

DP sudah dibayar, jadwal, dan persiapan lainnya udah fix. Dari Surabaya berangkat tengah malam agar sampe Jepara pagi, soalnya si kapal cepat Kartini berangkat jam 11.00 dari pelabuhan. Seperti biasa, aku sulit tidur jika di perjalanan. Tapi lumayan sih dapat tidur 1 – 2 jam buat aktivitas hari pertama.

Pas sampai Pelabuhan, syahbandar menyatakan cuaca terlalu buruk untuk berlayar. Sehubungan ada gempa di Nepal beberapa hari lalu, perairan Indonesia kena efeknya. Ombaknya mencapai 2 m sehingga kapal – kapal dilarang untuk berlayar 2 hari ke depan. Ratusan penumpang terlantar. Banyak juga tuh turis asing yang sudah siap – siap berangkat mengalami nasib yang sama dengan kita. Gagal berangkat.

Sedih. Pengen marah. Cranky. Ngantuk. Capek. Semua jadi satu.

Saat itu kami punya pilihan : melanjutkan perjalanan atau balik ke Surabaya. Kami akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan, go show aja kemana gitu. Karena memang ngga ada back-up plan. Setelah browsing sana sini dan hasil tanya – tanya teman, yang terdekat adalah Semarang. Tujuan jalan di Semarang adalah ke Cimory dan Umbul Sidomukti. Dengan menggunakan GPS yang dipenuhi detour dan petualangan jalanan yang ngga biasa, sampailah kami ke kedua tujuan tersebut. Umbul Sidomukti ternyata keren banget lho. Yang menarik adalah perjalanan ke sana yang asik dan petualangan banget karena lokasinya di puncak gunung. Aku pribadi tertarik banget nyoba paralayang. Tapi sayang, kemaren itu paralayang komersil ditutup karena ada lomba. Jadi cuma bisa menikmati pemandangannya aja.

image

Begitulah penampakannya. Asik yah?

It was a fun and spontaneous trip. Traveling sama dengan hidup, kadang semuanya tidak sesuai rencana. We always have option to stop complaining then continue the trip and make the best of it or quit and start all over again. The most important of everything is to enjoy the trip.

Rencana

One Dance

“Gue ngga mau ke Vietnam lagi. Pass aja deh kalo mau pada ke sana..” Kataku pada teman – teman yang ngajak jalan – jalan ke sana.

Lucky me, memiliki teman – teman terdekat yang punya hobi ‘konsumtif’ : jalan – jalan, shopping, nyalon, snorkeling, atau hunting makanan. Buatku, hidup akan sangat membosankan kalo hanya mikirin uang, berhemat, dan melakukan kegiatan yang sama setiap hari. Dan tentu saja, kalo hanya dihabiskan di dalam kota saja. Jalan – jalan itu penting banget buat nambah wawasan, memperluas pergaulan… jadi kita sedikit lebih memahami budaya dan karakter orang lain.

Tapi tidak ke Vietnam. Dua tahun lalu aku US bersama seorang sahabat, kami transit di Ho Chi Minh semalam. First look, rusuh. Aku pikir, Jakarta atau kota besar lain di Indonesia itu udah paling rusuh sedunia (namun aku tetap cinta), until I met Ho Chi Minh. Orang hobi banget klakson sana – sini, nerobos lampu merah, naek sepeda motor tanpa helm, susah antri, ribut, dll. Itu kesan pertamaku tentang Ho Chi Minh. Makanya, ketika Big Boss nyuruh ikutan sertifikasi/ sekolah spesialis ke Vietnam selama seminggu, I was a bit hesitant to go. Aku bahkan ngga extend stay di sana untuk jalan – jalan atau menikmati Ho Chi Minh, I just wanted to get back straight home as soon as I can.

So, there I was. Spent the whole week in class from 8 a.m to  9 p.m everyday. That was brutal and tough to follow. No chance of going out, we (12 students and 3 trainers) kinda stuck with each other for the whole week from 1 to 6 Feb. Setelah masuk kamar pun, seabrek kerjaan menanti dan kami akhirnya harus stay awake sampai dini hari atau bahkan pagi. Hari Jum’at, hari terakhir kelas, para trainers memutuskan memberikan waktu luang sore hari untuk city tour, nonton water puppet show (semacam wayang golek tapi dilakukan di air), lalu makan malam. Setelah itu, going wild for the whole night. One of our friends recommends Chill Sky Bar to go out.

I had option, to go wild or just going back to the hotel and sleep. I chose to go wild. For God’s sake if I don’t, I can be dead or going back home like zombie, no soul at all. After all the very tight schedules, all I wanna do was dancing all night long.  So, I dance like there’s no tomorrow. Teman – teman sekelas juga pada bengong ternyata aku bisa wild juga. Ok, I don’t drink alcohol for sure, but I like going to the bar and dance too. There’s nothing wrong with it and all my friends were very respectful as well.

Across the bar, I met Mark (not a real name), my colleague Ed introduce me to him as he is also working for the same company with us but different region. We did that casual conversation, which I thought it is gonna be boring but then he took my hand

“I can’t really dance.. in a proper manner..” I said

“Don’t worry, it’s easy.. come on!!” He said

He had that warm eyes and smiles that shot right to my heart instantly.

And we started to dance. Time goes by, we found ourselves dancing and talking with each other separately from the group. The music was a bit of a let-down, but the dancing was the most fun thing we had until it was 02.00 a.m. and I had to leave. I blame myself for being stupid why did I hate Ho Chi Minh at the first place. If only, I didn’t book the flight right away I could probably had chance to make the best of our meeting that night. It was too short night; I didn’t even have his number.

On the way back to the hotel, I chatted with my 3 other friends.

“Hey, Sarah… will you meet me if I visited KL?” I asked Sarah

“Sure… bring your partner too. You are welcome to visit our house..” Sarah said

“Nah, I’m single… “ I answered

“So why are you going back to the hotel with us? You should stay put. That guy was so into you, you know.. you could be a married lady next month ha.. ha.. ha..” Brian jumped in

We laughed. I had fun that night.

One thing I knew, I found myself blushing all the way back home and I was smiling to sleep that night.

It took only one dance to smile again, after all the loneliness I feel, all the worries that haunting me every day, and the sadness I spend by myself. Does it heal all the wounds? Nope. Does it wipe away all the tears? Nope. This was only one dance at one fun night with one fun guy.

One dance that helps me realized, it is time to pack things up and write new chapters in my life. All the blushing on my cheek that night letting me know, my heart is now an open book and I’m ready to start over again.

Will I ever see him again? I don’t know. But I’ll make sure I wear my heels the next time we dance.

One Dance

Comedy in life

I was so happy and excited when my younger sister told me she is getting married. Sebelumnya, aku bahkan meminta dia untuk menikah secepatnya karena emang Wena dan iparku sekarang pacaran sudah 7 tahun. Jadi, ketika mereka sudah punya komitmen yang jelas dan sama – sama kerja, pikirku apalagi sih yang harus dinanti?

Kedua orang tuaku juga begitu. Intinya kami semua sangat mendukung keputusan si adek untuk menikah. Namun saat itu sih belum ada pembicaraan serius tentang hal ini. Lalu, di sinilah drama dimulai…

Waktu itu pas aku ada acara di Bali, aku mengajak mama dan papa untuk ke Bali juga buat liburan sebentar menghabiskan weekend. Ketika mau tidur, tiba – tiba si Papa terisak. Aku Cuma bisa bengong saat itu, terus aku berbisik sama mama :

“Papa kenapa sih? Kok dia nangis?”

Dengar pertanyaanku si mamah malah nangis juga. Aku Cuma bisa garuk – garuk kepala, ngga ngerti kenapa mereka kompak banget soal menangis. Aku terdiam bingung.

Sambil terisak si papa ngomong dengan logat Sunda yang kental:

“Teteh, Papa minta maap. Papa sayang sama teteh, tapi si adek juga anak Papa.. jodohnya sudah ada. Kemarin Dani ngadep Papa minta ijin nikahin si adek. Jadi, Papa sama mamah minta ijin sama teteh juga. Kumaha ini?”

“Ina sih ngga apa – apa. Kalo emang udah ketemu jodohnya masa mau nunggu sampai Ina ketemu jodoh..” jawabku santai dari hati yang paling dalam

Tangisan si Mamah tambah kenceng, kayak gamelan yang mengiringi sinden nyanyi.

“Mamah mah pengennya kamu dulu yang nikah… tapi da kumaha…” kata si mamah nambahin

Aku ngga pernah kepikiran akan sedrama ini sih. Padahal aku santai banget nanggepin si adek nikah. Bahkan mendukung banget. Buatku, setiap orang berhak bahagia, begitupun dengan adekku dan orang tuaku. Ini adalah kebahagiaan bersama.

Dan malam itu dihabiskan dengan nangis berjamaah.

***

Menjelang hari-H, mendadak pekerjaan kantor menggunung. Ribet sekali sama urusan luar kota. Bahkan H-5 aku masih di Bali untuk ketemu klien. Di perjalanan dari Bali ke Tasik, entah kenapa wajah bagian kanan kaku. Mataku susah sekali mengedip dan bibir bagian kanan tidak bisa digerakkan. Alhasil, aku ngga bisa minum dan makan dengan benar, kayak anak kecil gitu yang selalu keluar lagi kalo makan dan minum. Deg!! Jangan – jangan aku kena stroke, pikirku. Setiap jam kondisinya makin memburuk, sampai rumah kondisiku sudah parah, mata kanan ngga bisa nutup, terus bibir juga monyong sebelah, kayak orang kena stroke. Mamah dan adekku nangis liat kondisiku kayak gitu. Akhirnya aku memutuskan ke UGD.

Ternyata aku terkena Bell’s palsy, kelumpuhan pada wajah yang disebabkan virus yang menyerang saraf ke tujuh. Dokter berasumsi karena AC atau udara dingin yang nyentrong ke wajah bagian kanan kalau dalam kasusku. Ditambah lagi, sistem imunku yang sedang lemah sehingga mudah sekali diserang virus. Keduanya benar juga, aku memang pake AC… yaa, Surabaya gitu lho panasnya ampun – ampunan. Mungkin secara ngga sadar langsung nyentrong ke wajah bagian kanan ketambah lagi kerjaan yang minta banyak perhatian dan luar kota terus  bikin kondisi badan ga fit dan gampang banget terkena virus.

So, I was hospitalized that night. Sebenarnya kasian sih si adek, lagi ribet – ribetnya butuh banyak pasukan, kakaknya malah masuk rumah sakit. Drama banget deh itu. Eh, tapi itu nggak seberapa drama dibanding scene berikutnya…

Setelah 3 hari di rumah sakit, aku memaksa minta keluar karena si adek siraman sore itu dan besoknya dia menikah. Aku ingin mengikuti proses penting dalam hidup si adek. Ketika proses siraman dan pengajian selesai, semua orang yang hadir menatapku dengan tatapan yang seolah – olah berkata… “kasihan ya kakaknya” lalu dilanjut dengan salaman, bahkan ada yang memelukku dengan mata berkaca – kaca sambil mengatakan : sabar ya!

Benar dugaanku, orang mengira aku kena stroke. Aku jelaskan bahwa sebenernya aku kena bell’s palsy yang disebabkan virus… bla.. bla.. bla.. , yang diceritain ngangguk – ngangguk tapi setelah berapa lama, aku merasa penjelasanku sudah tak penting lagi. They have their thought and I can’t change that. Lesson no. 1. Don’t bother to explain our side story to those who don’t know us in person.

Di hari pernikahan, seperti yang sudah kuduga sebelumnya, perhatian orang – orang tertuju padaku. I believe we all know that kind of look and gesture, that pity look and gesture. Dan biasalah, semua orang menunjukkan empatinya padaku. Aku berusaha menjelaskan, tapi akhirnya aku menyerah. I let people think what they want. Sampai selesai acara, sedang capek – capeknya… si Mamah tiba – tiba nangis di depanku. Aku bengong.

“Kenapa Mah?”

“Mamah denger cerita, orang – orang pikir kamu stress sampe stroke karena dilangkahi nikah sama adekmu..”

Aku sebenernya pengen ngakak tapi aku tahan karena si mamah nangis sesenggukan. I don’t understand why people think that way. Mereka bahkan ngga tau kondisi fisik dan mentalku bahkan kerjaanku. It has nothing to do with ‘dilangkahi’ thingy.

“Cobalah kamu serius cari calon suami, biar mamah tenang…” pintanya.

Lesson no. 2 : you can’t argue with tears.

Aku mengangguk.

Ketika aku ceritakan pada sahabat – sahabatku tentang kejadian ini, mereka semua ngakak. Exactly what I was expecting from them, because eventually, what we need more in life is a comedy than a reminder how difficult our life is.

Comedy in life

Moving on

I like white lilies, shoes, shiny stuff, I don’t get jealous much but I have specific target that I don’t like, I get so lonely easily but easy to laugh at the same time, I am adventurous, I am independent and know what I want in life … and I know I want you!!

The hardest part of moving on is that we are not ready to let go the memories… yet. All we want to do to just freeze the time and experience all over again.

The bad news is…. We can’t!

As much as it hurts, we have to let go.

Moving on